BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Makanan
sangat penting bagi makluk hidup, termasuk bagi manusia. Makanan merupakan
bidang interaksi antara manusia dan lingkungannya, dari lingkunganlah makanan diperoleh.
Lingkungan mempengaruhi gizi, ciri-ciri ragawi dan kesehatan. Gangguan dalam
gizi mencerminkan gangguan keseimbangan dengan lingkungan. Gizi memang
merupakan masalah biokultural pada manusia. Manusia memang polifag, mempunyai
spektrum makanan yang luas, dan pemakan segala (omnivor), tetapi tidak segala-galanya
dimakan manusia.
Makanan
yang kita makan sehari-hari dipecah menjadi partikel-partikel kecil di dalam
saluran pencernaan untuk diabsorpsi dan ditranport ke berbagai sel-sel di dalam
tubuh. Sel-sel tubuh menstranformasi ke dalam energi kimia dalam bentuk
sederhana yang dapat dipergunakan segera atau bentuk lain sebagai cadangan.
Tubuh manusia terdapat sejumlah sistem metabolisme energi yang dapat menyediakan
energi sesuai kebutuhan ketika beristirahat atau exercise. Makanan merupakan
sumber energi yang utama bagi manusia. Sumber energi bagi tubuh manusia sangat
diperlukan dalam melakukan aktivitas khususnya olahraga. Cepat lambatnya proses
pembentukan energi dalam tubuh sangat berpengaruh terhadap prestasi seseorang.
Jumlah
energi yang terbentuk tergantung berbagai faktor, antara lain: konsentrasi
substrat yang menjadi bahan baku energi dan intensitas olahraga yang dilakukan.
Menurut Wolinsky (1994) dengan makanan yang optimal maka energi dapat tersedia
dengan cukup, sehingga menghasilkan kemampuan kerja dan waktu pemulihan yang
lebih baik, kelelahan dapat diatasi secara lebih efektif karena zat gizi
cadangan dapat digunakan untuk kembali pada keadaan homeostasis. Oksigen, air
dan zat gizi dibutuhkan untuk proses kehidupan. Makanan seorang atlet harus memenuhi
semua zat gizi yang dibutuhkan untuk mengganti zat-zat gizi dalam tubuh yang berkurang
akibat aktivitas sehari-hari dan olahraga. Menu seorang atlet harus mengandung semua
zat gizi yang diperlukan yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral
dan air. Menu atlet disusun berdasarkan jumlah kebutuhan energi dan komposisi
gizi penghasil energi yang seimbang.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
cara menyajikan makanan bagi olahragawan?
2. Apa
saja Kebutuhan
Energi Bagi Olahragawan?
3.
Bagaimana Petunjuk Umum Tata Gizi pada Atlet?
C.
Tujuan
1. Memahami
cara menyajikan makanan bagi olahragawan.
2. Memahami
Kebutuhan Energi
Bagi Olahragawan.
3. Memahami Petunjuk
Umum Tata Gizi pada Atlet.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Penyajian Makanan
untuk Olahragawan
Pengelolaan gizi olahragawan
terdiri dari:
1. Makanan sehari-hari
2. Makanan selama latihan
3. Makanan sebelum
bertanding/berlomba
4. Makanan selama
berlomba/bertanding
5. Makanan setelah
berlomba/bertanding
6. Minuman bagi olahragawan.
1.
Makanan
sehari-hari
Makanan
sehaari-hari bagi atlit di luar pertandingan dan latihan sama saja dengan
makanan non atlit yaitu menu seimbang yang kualitas dan kuantitasnya baik. Pola
makan kita sudah baik yaiti terdiri atas makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan
buah-buahan ditambah susu atau bahan penggantinya. Frekuensi makan dapat
mencapai 5 – 6 kali terdiri atas 3 kali makan utama, 2 – 3 kali selingan
tergantung kebutuhan tubuh. Jumlah “calorie intake”(makan) harus disesuaikan
dengan “calorie expenditure”(aktivitas jasmani), sehingga berat badan tetap
terkendali.
2. Makanan selama latihan
Atlit
yang status gizinya sudah baik, latihan dan pembinaan fisik langsung bisa
dilaksanakan; namun untuk atlit yang kurang gizi (misal:berat badan kurang,
anemia dan lain-lain) maka status gizinya harus diperbaiki lebih dahulu,
disamping latihan rutin. Juga bagi atlit yang kelebihan berat badan, maka harus
diturunkan lebih dahulu dengan tidak mengganggu latihan rutin. Pada hri-hari
latihan makan disesuaikan dengan waktu latihan . Dengan meningkatnya frekuensi
latihan 2 – 3 kali sehari atau atlit yang memerlukan waktu latihan yang lama
dan melelahkan, maka disarankan makan 4 -6 kali sehari dengan porsi yang lebih
kecil. Latihan sebaiknya dilakukan lebih kurang 2 jam setelah makan utama. Pada
permulaan masa latihan (1 -2 bulan ) dianjurkan protein cukup tinggi terutama
bagi mereka yang memerlukan perkembangan otot yang banyak. Namun pemberian menu
tinggi protein harus selektif karena: Makanan dengan kadar protein tinggi akan
memberi beban kerja ekstra pada hati dan ginjal, disamping itu protein bukan
sumber “instant energy metabolismenya sangat panjang dan berliku-liku” sebelum
menghasilkan energi. Minum harus cukup; jumlah cairan 2 – 2,5 liter sehari,
bila banyak keluar keringat bisa ditambahkan garam dapur, minum sari buah dan
kaldu memberikan selain cairan juga vitamin dan mineral.
3. Makanan Sebelum Bertanding
Atlit
sebaiknya mengkonsumsi makanan lengkap 3–4 jam sebelum bertanding, dengan
tujuan agar saat bertanding lambung sudah dalam keadaan kosong. Makanan yang
bisa menunjang penampilan atlit yaitu : Makanan cepat meninggalkan lambung/
cepat dicerna, cepat menjadi energi, tidak menimbulkan masalah bagi lambung.
Menu makanan tersebut tediri dari : - Tinggi karbohidrat - Cukup protein -
Rendah lemak - Rendah serat, tidak mengandung gas dan tidak merangsang. - Cukup
vitamin, mineral dan air. Adapun pola hidangan yang dapat dikonsumsi atlit
sesaat menjelang pertandingan adalah sebagai berikut:
a.
3
– 4 jam sebelum bertanding, makanan lengkap.
b.
2
– 3 jam sebelum bertanding sebaiknya dalam bentuk makanan kecil, misalnya roti.
c.
1
– 2 jam sebelum bertanding, makanan cair berupa juice.
d.
30
– 60 menit sebelum bertanding, atlit hanya boleh diberi minuman cair saja.
4.
Makanan
Saat Bertanding
Pada
prinsipnya makanan saat bertanding, makanan dan minuman tersebut cukup untuk
memenuhi energi dan gizi, sehingga cadangan glikogen dan status hidrasi
terpelihara giliran selanjutnya penampilan atlit terjaga. Jadi kriteria makanan
dan minuman tersebut adalah:
a.
Mudah
dicerna dan cepat menjadi energi
b.
Tidak
membebani lambung
c.
Enak/cocok
d.
Waktu
pemberian dapat dilakukan pada saat istirahat, penggantian pemain, atau waktu
tanding, di jalan / ditempat-tempat yang telah disediakan panitia.
e.
Cairan
sebaiknya bersuhu sejuk (10o C) dan atlit telah tebiasa dengan minuman
tersebut. Minum dengan interval tertentu (10 – 15 menit) jangan menunggu sampai
rasa haus datang. Minum 150-250 cc.
f.
Pemberian
minuman, cairan yang menggulung dengan hidrat arang terutama diberikan terhadap
atlit yang bertanding 30-60 menit terus menerus, atau cabang olahraga yang
waktu tandingnya lama.
5. Makanan Setelah Bertanding
Pemberian
makanan setelah bertanding pada prinsipnya adalah berusaha memenuhi kalori dan
zat gizi untuk memulihkan glikogen otot, status hidrasi dan keseimbangan
elektrolit. Hal-hal yang harus diperhatikan :
a.
Minuman
setelah bertanding sangat penting untuk memulihkan status hidrasi
b.
Setiap
penurunan 5000 gram berat badan, tubuh memerlukan 500 cc air
c.
Pada
penurunan berat badan 4-7 %, berat badan akan kembali normal setelah 24-48 jam.
d.
Minuman
diberikan dengan interval waktu tertentu.
e.
Minumlah
jenis juice buah yang banyak mengandung kalium dan natrium, misalnya juice
tomat, belimbing, dll.
f.
Untuk
memulihkan kadar gula darah, tubuh memerlukan karbohidrat.
g.
Kebutuhan
karbohidrat 1jam setelah bertanding 1. gram/kg berat badan Misalnya berat badan
50 kg; maka kebutuhan karbohidrat 50 gr atau 200 kalori.
h.
Pilihlah
karbohidrat kompleks (pati) dan disacarida.
i.
Sebaiknya
makanan tersebut dalam bentuk cairan.
j.
Pada
umumnya setelah bertanding atlit malas makan oleh karena itu porsi diberikan
setengah dari biasanya.
Cara pemberian: Segera setelah bertanding,
pemberian makanan dan minuman ditujukan terutama untuk memulihkan cadangan
glikogen serta mengganti cairan, vitamin, mineral dan elektrolit yang terpakai
selama pertandingan. Pemberian makanan setelah pertandingan harus memperhatikan
keadaan atlit. Sering terjadi bahwa nafsu makan dari sebagian besar atlit berkurang.
Untuk itu segera setelah pertandingan, atlit harus minum air dingin (5-10º C)
sebanyak 1-2 gelas. Kemudian atlit dianjurkan untuk minum berupa cairan yang
mengandung karbohidrat, vitamin, mineral dan elektrolit secara kontinyu dengan
interval waktu tertentu sampai terjadi hidrasi. Pada keadaan ini dapat
diberikan minuman berupa juice buah-buahan dan sayuran. Setelah keletihan
berkurang kira-kira 2-4 jam setelah bertanding dapat diberikan secara
berangsur-angsur makanan lengkap.
6. Minuman Bagi Olahragawan
Minuman
olahragawan yang baik adalah minuman yang mengandung mineral-mineral dan
zat-zat yang terpakai pada waktu olahraga (seperti: Na, K, Mg, Ca dan
karbohidrat), karena fungsi minuman adalah untuk mengganti cairan /mineral,
elektrolit dan zat energi yang telah digunakan. Adapun pedoman minuman untuk
olahragawan antara lain sbb:
·
Harus
hipotonik
·
Mengandung
zat yang dibutuhkan seperti: Na, K, Ca, Mg. - Rasanya enak
·
Mengandung
fruktosa yang rendah
·
Minuman
dingin/ sejuk ( 8 – 13 derajat celcius )
·
Banyak
minuman yang disediakan di pos-pos dalam wadah sebanyak 100-400 cc.
·
Minumlah
sebanyak ± 400-600 cc, 10 – 15 menit sebelum pertandingan dimulai.
·
Selama
pertandingan minumlah lebih kurang 100 – 200 cc antara 10 -15 menit sekali.
·
Setelah
pertandingan makanlah makanan yang baik gizinya, dan minum lebih banyak dari
biasanya.
·
Olahragawan
harus mempunyai catatan berat badan setiap pagi setelah bangun, setelah
kencing, sebelum makan pagi, untuk mengetahui bila terjadi dehidrasi kronis.
Jika berat badan sangat kurang, kemungkinan ada dehidrasi kronis.
·
Minum
adalah sangat penting untuk pertandingan yang berlangsung lebih dari 50 -60
menit.
B.
Kebutuhan Energi Bagi Olahragawan
Memenuhi kebutuhan energi adalah suatu prioritas nutrisi bagi para atlet.
Optimum athletic performance didapat dengan pemasukkan energi yang cukup. Seksi
ini akan memberi informasi yang dibutuhkan untuk menentukan keseimbangan energi
untuk seorang individu. Para atlet butuh mengkonsumsi energi yang cukup untuk
memelihara komposisi berat dan tubuh yang tepat sambil melakukan latihan
olahraga sport.
Walaupun pemasukkan energy yang biasanya didapat oleh kebanyakan para atlet
wanita yang melakukan latihan intensitas sesuai dengan jumlah para atlet pria
per kilogram berat badan, sebagian atlet wanita mengkonsumsi energy lebih
sedikit daripada pemakaian mereka. Pemasukkan sedikit energi untuk atlet wanita
adalah suatu keprihatinan yang utama karena kondisi gigih dari keseimbangan
energi negatif bisa mengakibatkan kehilanganberat badan dan disrupsi dari fungsi
endocrine.
Pemasukkan energy yang tidak cukup sehubungan dengan pemakaian energy
mengkompromasikan performance dan meniadakan manfaat dari latihan. Dengan
pemasukkan energy yang terbatas, jaringan lemak dan tidak berlemak akan dipakai
oleh tubuh sebagai Energi.
Tabel.1 Kebutuhan Energi Saat Olahraga Berdasarkan
Berat Badan (Kal/menit)
Aktivitas
|
Berat Badan (Kg)
|
||||
50
|
60
|
70
|
80
|
90
|
|
Sepakbola
|
7
|
8
|
9
|
10
|
12
|
Lari:
|
|||||
·
5,5 menit/km
|
10
|
12
|
14
|
15
|
17
|
·
5 menit/km
|
10
|
12
|
15
|
17
|
19
|
·
4,5 menit/km
|
11
|
13
|
15
|
18
|
20
|
·
4 menit/km
|
13
|
15
|
18
|
21
|
23
|
Jalan Kaki
|
|||||
·
10 menit/km
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
·
8 menit/km
|
6
|
7
|
8
|
10
|
11
|
·
5 menit/km
|
10
|
12
|
15
|
17
|
19
|
Tabel
2:Kebutuhan Energi Pada Macam-macam Cabang Olahraga(Kkal/Kg BB/24 jam)
Olahraga ringan
|
Olahraga sedang
|
Olahraga berat
|
Olahraga berat sekali
|
|
Laki-laki
|
42
|
46
|
54
|
62
|
Wanita
|
36
|
40
|
47
|
55
|
Tabel 3:
Kebutuhan Energi Berdasarkan Aktivitas Olahraga (kalori/menit)
Aktivitas Olahraga
|
Berat Badan (kg)
|
|||||
50
|
60
|
70
|
80
|
90
|
||
Balap Sepeda
|
9 km/jam
|
3
|
4
|
4
|
5
|
6
|
15 km/jam
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
|
bertanding
|
8
|
10
|
12
|
13
|
15
|
|
Bulutangkis
|
5
|
6
|
7
|
7
|
9
|
|
Bola basket
|
7
|
8
|
10
|
11
|
12
|
|
Bola voli
|
2
|
3
|
4
|
4
|
5
|
|
Dayung
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
|
Golf
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
|
Hocky
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
|
Jalan Kaki
|
10
menit/km
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
8 menit/km
|
6
|
7
|
8
|
10
|
11
|
|
5 menit/km
|
10
|
12
|
15
|
17
|
19
|
|
Lari
|
5,5
menit/km
|
10
|
12
|
14
|
15
|
17
|
5 menit/km
|
10
|
12
|
15
|
17
|
19
|
|
4,5 menit/km
|
11
|
13
|
15
|
18
|
20
|
|
4 menit/km
|
13
|
15
|
18
|
21
|
23
|
|
Gaya bebas
|
8
|
10
|
11
|
12
|
14
|
|
Gaya punggung
|
9
|
10
|
12
|
13
|
15
|
|
Gaya dada
|
8
|
10
|
11
|
13
|
15
|
|
Senam
|
3
|
4
|
5
|
5
|
16
|
|
Senam Aerobik
|
Pemula
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
Terampil
|
7
|
8
|
9
|
10
|
12
|
|
Tenis lapangan
|
Rekreasi
|
4
|
4
|
5
|
5
|
6
|
Bertanding
|
9
|
10
|
12
|
14
|
15
|
|
Tenis meja
|
3
|
4
|
5
|
5
|
6
|
|
Tinju
|
Latihan
|
11
|
13
|
15
|
18
|
20
|
Bertanding
|
7
|
8
|
10
|
11
|
12
|
|
Yudo
|
10
|
12
|
14
|
15
|
17
|
|
C. Petunjuk Umum Tata Gizi pada Atlet
1.
Makanan yang bervariasi
Pesantai maupun orang yang sedang berlatih, tentu perlu makanan yang
bervariasi yang meliputi 4-sehat 5-sempurna sejumlah kira-kira 6500 kJ (1500
kcal)/ hari. Atlet selama latihan dan pertandingan memerlukan jumlah kalori 2 –
3 kali lebih banyak.
2.
Kendalikan berat badan
Patokan misalnya tinggi badan (TB) / berat badan (BB) atau Index Massa
Tubuh yang digunakan untuk menilai akseptabilitas BB orang dewasa, tidaklah
tepat untuk atlet karena tidak memberikan informasi tentang komposisi tubuh.
Misalnya, atlet dengan keangka tulang dan massa otot yang besar dapat dianggap
sebagai kelebihan berat badan (over weight), padahal kandungan lemaknya
sedikit. Pengukuran komposisi tubuh yntuk atlet lebih baik dengan menggunakan
jumlah logaritma dari delapan lipatan kulit (skinfold) dengan lokasi 2 pada
lengan atas, 4 pada tubuh dan 2 pada extremitas bawah dan nilai ini dapat
diperbandingkan dengan nilai-nilai individu yang lain. BB ideal atau BB kompetitif
harus diperoleh perlahan-lahan diluar masa pelatihan dan harus dipelihara
selama masa pelatihan dan kompetisi untuk mencegah dampak buruk.
3.
Hindari makan terlalu banyak lemak
Atlit yang terlatih lebih banyak menggunakan lemak
sebagai sumber energi dari pada yang tidak terlatih. Atlet dengan sumber lemak
tubuh yang rendah sekalipun, ternyata mempunyai jumlah besar persediaan
jaringan lemak, sehingga tidak perlu makan extra lemak. Lemak mengandung 37 kJ
/ g (9 kcal/g) dan harus digunakan tidak berlebihan, karena atlit juga rawan
terhadap gangguan kesehatan yangdisebabkan oleh tata-gizi asam lemak jenuh,
walaupun olahraga itu sendiri pada umumnya memberi manfaat bagi kesehatan para
pelakunya. Penggantian atau pengurangan lemak jenuh dalam tata-gizi (misalnya :
mentega, daging gemuk, keju, es krim, cake pada umumnya, biskuit, kue-kue
kering dan coklat) dengan lemak tidak jenuh ganda atau tunggal (misalnya :
mentega tidak jenuh ganda, minyak sayuran, kue-kue yang dimasak dengan mentega
tidak jenuh ganda) dan produk-produk susu dengan lemak rendah dan daging yang
kurus, dapat memenuhi pasokan kalori dan nutrien tanpa dampak buruk.
4.
Hindari makan terlalu banyak gula
Gula murni atau makanan yang terlalu manis dalam menu
dasar hendaknya dikurangi karena dengan mengkonsumsi gula tidak murni yang
terdapat dalam sayuran, buah-buahan dan padi-padian juga sekaligus mendapatkan
mineral dan vitamin-vitamin yang diperlukan.
5.
Makan lebih banyak padi-padian, sayur-sayuran dan
buah-buahan
Cadangan glikogen dalam otot penting untuk penampilan.
Tata-gizi dengan CHO tinggi diperlukan untuk mengganti glikogen otot yang habis
terpakai untuk latihan. Setiap gram CHO menghasilkan energi sebesar 16 kJ (= 4
kcal). Tata-gizi dengan CHO-komplex tinggi dapat membantu mengatur BB,karena
kandungan nilai energinya yang relatif rendah dan cukup mengenyangkan. Tetapi
untuk atlet angkat berat makanan yang mengenyangkan ini dapat menyebabkan
asupan makanannya menjadi tidak cukup untuk memelihara BB-nya. Untuk atlet ini
bila tata-gizinya telah seimbang, kebutuhan energinya lebih mudah dipenuhi
dengan menambah gula atau asam lemak tidak jenuh tunggal atau ganda.
6.
Kurangi alkohol
Pengaruh buruk akut dari alkohol adalah motorik/
performance, proses berfikir dan emosional. Dari sudut fisiologi alkohol
menghambat proses glukoneogenesis dengan akibat hipoglikemia dan meningkatnya
resiko dehidrasi pada olahraga. Hipoglikemia dalam hubungan dengan asupan
alkohol dapat mengganggu termoregulasi dan dalam hal melakukan olahraga di
lingkungan dingin, dapat menyebabkan suhu tubuh sangat menurun (hipotermia).
7.
Kurangi garam
Hal ini bertentangan dengan keyakinan yang sudah
populer yaitu bahwa atlet memerlukan tambahan garam dalam makanannya. Asupan
Natrium (Na) harian yang dianjurkan antara 40 – 100 mMol/hari biasanya cukup
untuk atlet pada umumnya. Sajian makanan (barat) pada saat ini kandungan Na-nya
antara 130-200 mMol/hari. Namun untuk atlet-atlet daerah tropis pernyataan
diatas perlu dicermati lebih lanjut, karena pengeluaran keringat di wilayah
tropis pada olahga berat dapat sangat banyak.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Makanan
merupakan sumber energi yang utama bagi manusia. Sumber energi bagi tubuh manusia
sangat diperlukan dalam melakukan aktivitas khususnya olahraga. Cepat lambatnya
proses pembentukan energi dalam tubuh sangat berpengaruh terhadap prestasi
seseorang. Semua aktivitas fisik memerlukan energi, kebutuhan energi yang
diperlukan bervariasi sesuai dengan derajat kegiatan/aktivitas.
Fungsi
gizi bagi atlit adalah untuk mempersiapkan keadaan tubuh yang ideal untuk
melakukan gerakan-gerakan yang terkoordinasikan dan teratur, serta menyediakan
energi yang akan dipakai pada waktu berolahraga. Tidak ada perbedaan yang
mencolok antara kebutuhan gizi serta penggunaan gizi pada atlit dan non atlit.
Perbedaan yang mungkin ada adalah pada aktivitas fisiknya, sehingga atlit
memerlukan energi yang lebih besar. Prinsip makanan sebelum bertanding dan saat
bertanding adalah makanan dapat menunjang penampilan atlit dan bukan
sebaliknya.
Minuman
bagi atlit adalah sangat penting untuk menghindari terjadinya dehidrasi,
apalagi untuk pertandingan yang berjalan lebih dari 50 menit, minum adalah
sangat penting bagi atlit.
Petunjuk
umum tata gizi pada atlet yaitu:
1.
Makanan yang bervariasi
2.
Kendalikan berat badan
3.
Hindari makan terlalu banyak lemak
4.
Hindari makan terlalu banyak gula
5.
Makan lebih banyak padi-padian, sayur-sayuran dan
buah-buahan
6.
Kurangi alkhohol
7.
Kurangi garam
B.
Saran
Agar kita lebih
memperhatikan makanan yang dikonsumsi bagi kita dan membiasakan untuk memakan
yang mengandung zat-zat yang bergizi.
LAMPIRAN
A.
Pertanyaan
B.
Jawaban
DAFTAR PUSTAKA
Achmad
Djaelai Sediaoetama, Ilmu Gizi Jilid I dan II
Direktorat Bina Gizi Masyarakat: “Gizi Olahraga untuk
Prestasi”, Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat,
Departemen Kesehatan RI, Jakarta 1997.
Hasan Muh
Said. Kesegaran Jasmani Atlet Sepakbola Pra-Pubertas. Jurnal IPTEK OLAHRAGA
2008; 10:188-102
Irianto Djokok Pekik. Panduan Gizi Lengkap Keluarga dan
Olahragawan. Jogjakarta: ANDI; 2006.
Modul Gizi
Olahraga FPOK UPI 2005
Mantap Chuke.......
BalasHapus